Indikator
  • USD → IDR Jual: 13,338 • USD → IDR Beli: 13,352
  • EUR → IDR Jual: 14,126 • EUR → IDR Beli: 14,145
  • HKD → IDR Jual: 1,718 • HKD → IDR Beli: 1,720
  • JPY → IDR Jual: 117 • JPY → IDR Beli: 117
  • AUD → IDR Jual: 10,210 • AUD → IDR Beli: 10,226
  • SGD → IDR Jual: 9,371 • SGD → IDR Beli: 9,387
  • Emas Jual → 548,000 • Emas Beli → 523,000
  • Perak Jual → 10,900
  • Update Tanggal 07-03-2017

Sawah Petani Lamongan Anti Wereng, Kok Bisa?

Home / Ekonomi / Sawah Petani Lamongan Anti Wereng, Kok Bisa?
Sawah Petani Lamongan Anti Wereng, Kok Bisa? Bupati Lamongan Fadeli bersama petani melakukan panen raya di Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Rabu (26/7/2017). (Foto: Ardiyanto/TIMES Indonesia)

TIMESINDONESIA, LAMONGAN – Pengalaman menjadi guru yang berharga, begitu pepatah mengatakan. Kisah ini berawal dari cerita warga Desa Tejoasri, Kecamatan Laren, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur, bergulat dengan pertanian sekian tahun.

Satu di antara petani, Desa Tejoasri, Kusairi, masih ingat betul kondisi sawahnya lima tahun lalu yang menjadi langganan hama wereng. Bukan hanya sawahnya, tetapi hama wereng juga menerjang hampir semua sawah milik warga di desa tepian bengawan mati ini.

“Waktu itu, kita semua menggunakan obat kimia biat werengnya mati. Harganya berkisar Rp 130 ribu per botol,” kata Kusairi bercerita, Rabu (26/7/2017).

Memang, lanjut Kusairi, hasilnya, wereng mati. Tetapi biota lain yang bermanfaat, termasuk musuh alami wereng juga ikut mati terpapar obat kimia. "Karena pakai obat kimia, padi sering kering sebelum panen,” ujar Kusairi saat mengikuti panen raya padi bersama Bupati Lamongan Fadeli.

Petani-LamonganihB0.jpg

Lebih jauh, Kusairi menuturkan, pertolongan bagi petani Desa Tejoasri akhirnya tiba. “Kami kemudian dikenalkan agens hayati oleh Pak Haji Khamim, dari UPT Dinas Pertanian Kecamatan (UPT Dinas Tanaman Pangan, Holtikultura dan Perkebunan Laren).”

Menurutnya, Ia menjadi petani termasuk yang pertama mau mencoba menggunakan agens hayati. Sementara warga lainnya, belum mau menggunakan agens hayati.

“Kebanyakan petani memang begitu. Baru mau menggunakan cara baru, ketika sudah nyatakne (membuktikan) dengan kepala sendiri,” ucapnya.

Padahal, agens hayati harganya sangat terjangkau, hanya Rp 10 ribu per botol kemasan 1 liter. Itu pun bisa digunakan berkali-kali, karena hanya dibutuhkan sekitar 200 mililiter untuk setiap tangki semprot.

Berita Terkait

Komentar

301 Moved Permanently

Moved Permanently

The document has moved here.

Terpopuler

Top
Wawanita.com satriamedia.com